Updatekno.id — Pemerintah Uni Emirat Arab (UEA) dilaporkan mengancam akan menarik investasi bernilai miliaran poundsterling dari Inggris sebagai bentuk protes atas keputusan Premier League terkait kasus Manchester City. Ketegangan ini memicu kekhawatiran diplomatik setelah para pejabat tinggi UEA memperingatkan bahwa tindakan hukum terhadap klub sepak bola tersebut dapat berdampak buruk pada hubungan bilateral kedua negara secara keseluruhan.
Salah satu proyek raksasa yang kini terancam batal adalah rencana investasi swasta untuk pembangunan pusat teknologi tinggi bergaya Silicon Valley. Rencananya, pusat teknologi tersebut akan dibangun di wilayah koridor ekonomi strategis antara Oxford dan Cambridge, yang selama ini diharapkan dapat menyerap banyak tenaga kerja lokal serta mendorong pertumbuhan sektor inovasi di Inggris.
Sebelum keputusan Premier League diumumkan secara resmi kepada publik, lobi-lobi tingkat tinggi dilaporkan telah terjadi di pusat pemerintahan Inggris. Ketua Manchester City, Khaldoon Al Mubarak, diketahui sempat mengadakan pertemuan khusus dengan Menteri Bisnis Inggris, Jonathan Reynolds, di Downing Street sekitar dua minggu sebelum pengumuman guna membahas implikasi dari penyelidikan ini terhadap investasi UEA.
Menanggapi situasi yang semakin memanas, pihak Downing Street menegaskan bahwa vonis bersalah terhadap Manchester City merupakan hal yang sangat serius dan tidak bisa diabaikan. Juru bicara Kantor Perdana Menteri Inggris menyatakan bahwa seluruh proses hukum independen yang sedang berjalan harus dibiarkan tuntas tanpa adanya intervensi politik dari pihak mana pun, serta hasilnya wajib dihormati demi menjaga integritas olahraga.
Isu ini juga memicu perdebatan sengit di ranah politik domestik Inggris, terutama setelah mantan Wali Kota Manchester Raya, Andy Burnham, menyuarakan keprihatinannya secara terbuka. Burnham mengkhawatirkan dampak jangka panjang bagi pembangunan kota jika pemilik klub saat ini memutuskan untuk menjual Manchester City dan menghentikan seluruh komitmen investasi sosial serta infrastruktur mereka di wilayah tersebut.
“Saya akan sangat khawatir jika kehilangan mereka,” ujar Mantan Wali Kota Manchester Raya, Andy Burnham, terkait potensi hengkangnya pemilik Manchester City akibat kasus finansial tersebut.
Pernyataan Burnham tersebut langsung menuai kritik tajam dari menteri bayangan bidang olahraga dari Partai Konservatif, Louie French. French menuduh Burnham secara terbuka memberikan dukungan moral kepada pemilik klub di tengah proses penyelidikan yang sangat sensitif mengenai pendanaan klub dalam beberapa tahun terakhir, serta menyebut sikap politik tersebut sebagai tindakan yang luar biasa tidak pantas dilakukan oleh seorang pejabat publik.
Desakan serupa juga datang dari Partai Liberal Demokrat yang meminta Burnham untuk memublikasikan seluruh rincian pertemuannya dengan pemilik Manchester City, Abu Dhabi United Group (ADUG). Partai tersebut menuntut transparansi penuh atas semua komunikasi yang terjalin, termasuk pengungkapan segala bentuk fasilitas, tiket gratis, atau jamuan mewah yang pernah diterima Burnham saat mengunjungi Stadion Etihad.
Kasus hukum yang menjerat Manchester City ini berkaitan erat dengan dugaan pelanggaran finansial berat yang terjadi selama hampir satu dekade. Klub raksasa Liga Inggris yang disokong oleh kekuatan finansial Abu Dhabi tersebut dituduh memanipulasi laporan keuangan melalui kesepakatan sponsor palsu demi mendongkrak pendapatan secara artifisial, sekaligus menekan biaya operasional riil agar terhindar dari sanksi aturan keadilan finansial.
Berdasarkan data penyelidikan resmi, nilai manipulasi finansial tersebut diperkirakan mencapai lebih dari 900 juta poundsterling atau setara dengan 1,2 miliar dolar AS sepanjang periode tahun 2009 hingga 2018. Skandal keuangan berskala besar ini kini tidak hanya mengancam eksistensi dan prestasi Manchester City di lapangan hijau, melainkan juga menguji ketahanan kemitraan ekonomi strategis antara pemerintah Inggris dan Uni Emirat Arab di masa mendatang.
Hingga saat ini, pihak Premier League terus melanjutkan penyelidikan independen mereka guna menegakkan aturan finansial secara adil bagi seluruh klub peserta liga. Sementara itu, pelaku pasar dan pengamat ekonomi di Inggris terus memantau apakah ancaman penarikan investasi dari pihak UEA ini benar-benar akan direalisasikan atau sekadar menjadi alat posisi tawar diplomatik dalam menyelesaikan sengketa olahraga ini.

