Updatekno.id — Seorang murid sekolah dasar berinisial M di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, meninggal dunia setelah diduga menjadi korban perundungan dan kekerasan fisik oleh kakak kelasnya. Peristiwa nahas yang menimpa siswa kelas 2 SDN 1 Kebondalem tersebut terjadi di area sekolah saat jam istirahat. Kasus ini kini tengah ditangani oleh pihak kepolisian untuk mengungkap kronologi serta memastikan proses hukum berjalan bagi para terduga pelaku yang disebut berjumlah tiga orang.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Keluarga korban baru mengetahui adanya tindakan kekerasan setelah M mengeluhkan sakit perut yang hebat pada pertengahan September 2026. Menurut penuturan orang tua korban, Diah Indrianti, anaknya sempat tidak bisa berjalan akibat rasa nyeri yang muncul setelah kejadian pemukulan tersebut. Pemeriksaan medis kemudian menunjukkan adanya tanda-tanda trauma fisik pada bagian perut yang diduga kuat berasal dari tindakan kekerasan, bukan karena faktor penyakit bawaan maupun pola makan.

“Anak kami awalnya tidak bercerita, namun setelah dokter memastikan ini bukan riwayat penyakit melainkan akibat pukulan, M akhirnya berani mengungkapkan bahwa dirinya dipukul oleh tiga orang kakak kelas,” ujar Diah Indrianti, ibu dari korban.

M sempat menjalani perawatan intensif selama sembilan hari di RSUD Dr. Azhari, Pemalang, sebelum sempat diizinkan pulang. Namun, kondisi kesehatannya kembali memburuk hingga akhirnya meninggal dunia pada 30 September 2026. Pihak keluarga menyatakan kekecewaan mendalam terhadap pihak sekolah yang dianggap kurang responsif dan lamban dalam menangani laporan dugaan perundungan tersebut, termasuk dugaan adanya upaya menutupi identitas terduga pelaku.

Menanggapi kejadian tersebut, pihak kepolisian melalui Kasat Reskrim Polres Pemalang, AKP Wildan Umar, telah melakukan serangkaian pemeriksaan terhadap sejumlah saksi, mulai dari teman korban, pihak sekolah, hingga orang tua korban. Kepolisian juga telah menjadwalkan pemeriksaan terhadap para terduga pelaku yang terdiri dari siswa kelas 5 dan kelas 6. Proses autopsi telah dilakukan untuk mendapatkan bukti medis yang valid guna memastikan penyebab kematian korban dan menentukan langkah hukum selanjutnya.

Pemerintah daerah melalui Plt Bupati Pemalang, Nurkholes, juga telah meninjau langsung sekolah korban untuk mendapatkan informasi mendalam mengenai kronologi kejadian. Sementara itu, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah telah memerintahkan jajarannya untuk melakukan investigasi menyeluruh. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menekankan pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, baik secara fisik maupun psikologis, bagi seluruh peserta didik sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Insiden di Pemalang ini menambah catatan panjang kasus kekerasan di lingkungan pendidikan sepanjang tahun 2026. Forum Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat setidaknya terdapat 100 kasus kekerasan di satuan pendidikan sejak Januari hingga September 2026, dengan ratusan korban jiwa maupun luka-luka. Jenis kekerasan tersebut mencakup kekerasan fisik, psikis, hingga perundungan yang melibatkan berbagai pihak di sekolah, termasuk sesama siswa maupun orang dewasa di lingkungan pendidikan.

Keluarga korban berharap agar kasus ini diusut secara transparan demi keadilan bagi almarhum M. Mereka juga mendesak pihak sekolah untuk segera memperbaiki sistem keamanan, termasuk pengadaan pengawasan CCTV di setiap sudut sekolah agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Saat ini, seluruh pihak menunggu hasil penyelidikan kepolisian yang akan menentukan apakah terdapat unsur pidana dalam tindakan yang dilakukan oleh para kakak kelas tersebut.