Updatekno.id — Sekelompok peneliti dari Universitas Federal Santa Catarina di Brasil baru-baru ini merilis temuan signifikan terkait kontaminasi parasit pada ikan tuna jenis skipjack atau cakalang (Katsuwonus pelamis). Berdasarkan studi yang diterbitkan dalam jurnal Ocean and Coastal Research, ditemukan bahwa 96 persen dari 53 sampel ikan yang dianalisis terinfeksi oleh cacing parasit. Fenomena ini menjadi perhatian serius mengingat ikan tuna jenis ini merupakan salah satu komoditas perikanan yang paling banyak dikonsumsi di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia.
Hasil pemeriksaan mikroskopis menunjukkan bahwa total terdapat lebih dari 1.600 cacing kecil yang ditemukan pada sampel-sampel tersebut. Organ tubuh ikan yang paling banyak menjadi sarang parasit adalah bagian usus, diikuti oleh jaringan otot dan lambung. Sementara itu, ginjal dan jantung menjadi satu-satunya bagian yang secara konsisten bebas dari keberadaan parasit tersebut. Tingginya angka prevalensi ini mendorong para peneliti untuk menekankan urgensi inspeksi sanitasi yang lebih ketat dalam rantai pasok makanan laut.
Para ahli menyarankan agar organ perut ikan segera dibersihkan sesaat setelah penangkapan guna mencegah migrasi larva parasit dari sistem pencernaan menuju jaringan otot. Meskipun kontaminasi ini tampak mengkhawatirkan, proses pengolahan industri seperti pengalengan umumnya mampu mematikan parasit sehingga produk tersebut aman untuk dikonsumsi. Risiko kesehatan justru lebih tinggi muncul saat ikan tuna diolah dalam kondisi mentah atau kurang matang, seperti pada hidangan sashimi atau sushi, di mana parasit yang masih hidup dapat berpindah ke tubuh manusia.
“Memasak dapat membunuh berbagai parasit yang kita temukan dalam makanan kita, dan hanya ketika kita makan makanan mentah atau kurang matang kita akhirnya terjerat dengan parasit hidup dan menular,” tegas Profesor Chelsea L. Wood dari School of Aquatic and Fishery Sciences University of Washington.
Jika parasit masuk ke dalam saluran pencernaan manusia, konsumsi ikan yang tidak dimasak dengan sempurna dapat memicu sejumlah gejala gangguan kesehatan. Beberapa keluhan yang sering dilaporkan antara lain nyeri perut yang intens, rasa mual, muntah, hingga diare. Oleh karena itu, ketelitian para koki sushi dan pengolah seafood menjadi garis pertahanan pertama dalam meminimalisir risiko keberadaan cacing yang mungkin luput dari pengamatan mata telanjang.
Data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia menunjukkan bahwa serapan tuna, tongkol, dan cakalang untuk pasar domestik pada tahun 2023 mencapai angka 1,57 juta ton. Tingginya minat masyarakat Indonesia terhadap jenis ikan ini menjadikan edukasi mengenai pengolahan makanan yang higienis sangat relevan. Langkah pencegahan sederhana seperti memastikan ikan dimasak hingga suhu yang cukup panas merupakan metode paling efektif untuk menghindari paparan parasit hidup.
Penelitian serupa yang dilakukan oleh University of Washington pada tahun 2020 menunjukkan tren peningkatan populasi cacing Anisakis pada makanan laut sebanyak 280 kali lipat sejak era 1970-an. Kendati demikian, temuan ini tidak selalu berarti ancaman bagi ekosistem laut secara keseluruhan, melainkan menjadi indikator perubahan kondisi lingkungan. Ilmuwan terus mendalami bagaimana pola sebaran parasit ini bertahan di tengah perubahan iklim global yang berlangsung cepat.
Meskipun belum ada penelitian komprehensif mengenai sebaran parasit di seluruh wilayah perikanan dunia, temuan di Brasil ini memberikan gambaran penting mengenai perlunya kewaspadaan bagi konsumen. Bagi masyarakat, penting untuk tetap memperhatikan kebersihan dan memastikan proses memasak dilakukan dengan benar agar manfaat nutrisi dari ikan tuna tetap dapat diperoleh tanpa harus terpapar risiko parasit. Kesadaran akan praktik sanitasi yang baik dari hulu ke hilir diharapkan mampu menekan potensi penularan penyakit melalui konsumsi hasil laut secara signifikan.

