Updatekno.id — Seorang kopilot maskapai Flydubai diduga melakukan upaya pembajakan pesawat dalam penerbangan FZ1073 rute Dubai menuju Tel Aviv pada pekan lalu. Berdasarkan laporan media Amerika Serikat dan Israel, pria berkewarganegaraan Oman tersebut diduga merencanakan tindakan terorisme dengan cara menabrakkan pesawat Boeing 737 MAX yang ia kemudikan ke Bandara Ben Gurion atau gedung bertingkat di pusat kota Tel Aviv.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Aksi nekat ini dilaporkan sebagai upaya untuk meniru serangan al-Qaeda pada 11 September 2001 di Amerika Serikat. Jaksa Agung Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan bahwa kopilot tersebut melakukan serangan terhadap kapten pesawat menggunakan kapak darurat yang tersimpan di kokpit. Beruntung, para penumpang di dalam pesawat segera bertindak cepat untuk melumpuhkan pelaku sebelum situasi bertambah buruk.

Awak pesawat cadangan yang kebetulan berada dalam penerbangan tersebut kemudian mengambil alih kemudi dan berhasil mendaratkan pesawat dengan selamat di Arab Saudi. Lebih dari 180 penumpang berada di dalam pesawat saat insiden tersebut terjadi. Pihak berwenang di UEA kini tengah melakukan penyelidikan mendalam untuk mengungkap kronologi kejadian, motif pelaku, serta kemungkinan adanya keterkaitan dengan pihak atau organisasi radikal lainnya.

“Jelas bahwa dia berniat bunuh diri, tampaknya sangat mungkin dia berniat menjatuhkan pesawat itu dan telah menjalani indoktrinasi radikal Islamis,” ujar Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Identitas kopilot yang diduga sebagai Hamam al-Hammami tersebut kini menjadi sorotan internasional. Sejumlah laporan menyebutkan bahwa pria ini sebelumnya pernah bekerja di maskapai Oman Air, namun sempat dikeluarkan dari pelatihan penerbangan karena adanya kekhawatiran terkait pandangan radikal yang ia anut. Saat ini, otoritas Australia juga dilaporkan sedang menyelidiki keterkaitan pria tersebut dengan negara mereka, mengingat ia pernah menempuh pendidikan di sana antara tahun 2015 hingga 2017.

Dalam pemeriksaan awal, pelaku diduga mengaku kepada penyidik bahwa dirinya sempat berniat melakukan tindakan serupa pada penerbangan sebelumnya menuju Tel Aviv, namun ia mengurungkan niat tersebut karena mengenal seseorang di dalam pesawat. Penyelidik saat ini masih fokus mendalami apakah pelaku bertindak seorang diri atau memiliki jaringan yang mendukung aksinya. Investigasi menyeluruh dari pihak berwenang UEA diperkirakan akan memberikan gambaran lebih jelas mengenai insiden ini setelah seluruh proses pemeriksaan selesai.

Kapten Smit Machchhar, yang menjadi korban penikaman, saat ini dilaporkan dalam kondisi stabil setelah menerima perawatan medis. Pemerintah India turut memberikan apresiasi atas keberanian yang ditunjukkan oleh kapten tersebut dan seluruh penumpang yang berhasil mencegah terjadinya bencana besar. Meskipun situasi di dalam kokpit sangat mencekam, keberhasilan para penumpang dalam melumpuhkan pelaku menjadi kunci keselamatan bagi seluruh orang di dalam pesawat.

Selain penyelidikan di UEA, pihak universitas di Inggris tempat pelaku menyelesaikan pendidikan jarak jauh di bidang manajemen penerbangan pada tahun 2023 juga menyatakan bahwa pria tersebut tidak pernah menjalani pelatihan pilot di institusi mereka. Pengamanan ketat pada rute penerbangan Dubai menuju Tel Aviv pun kini menjadi perhatian serius, terutama terkait akses terhadap benda-benda berbahaya di dalam kokpit seperti kapak darurat yang digunakan dalam serangan ini. Kasus ini menjadi pengingat akan pentingnya protokol keamanan penerbangan yang ketat untuk mengantisipasi ancaman dari pihak internal di masa depan.