Updatekno.id — Penyelidikan mendalam kini tengah diarahkan kepada sosok Hamam al-Hammami, kopilot maskapai Flydubai yang diduga melakukan aksi penyerangan brutal terhadap pilot utama dalam penerbangan menuju Tel Aviv. Insiden menegangkan yang terjadi pada akhir September 2026 tersebut membuka tabir mengenai rekam jejak karier serta dugaan pandangan ekstremis yang sempat membayangi perjalanan profesional sang kopilot di beberapa maskapai penerbangan Timur Tengah dan Afrika Utara.
Peristiwa mencekam itu berlangsung di dalam pesawat Flydubai dengan nomor penerbangan FZ1073 yang tengah menempuh rute dari Dubai menuju Tel Aviv pada 30 September 2026. Saat pesawat berpenumpang 174 orang tersebut sedang mengudara stabil di ketinggian sekitar 34.000 kaki, al-Hammami secara tiba-tiba melancarkan serangan fisik kepada pilot utama, Smit Machchhar. Pelaku disinyalir menggunakan kapak darurat yang berada di dalam kokpit untuk melukai korban dan berupaya merebut kendali penuh atas pesawat udara tersebut.
Pilot Smit Machchhar menderita luka-luka yang sangat serius akibat serangan mendadak tersebut, namun ia tetap berupaya sekuat tenaga mempertahankan kendali pesawat demi menyelamatkan ratusan nyawa di kabin. Di tengah kondisi bersimbah darah dan fisik yang melemah, Machchhar berhasil membuka pintu kokpit sehingga memberikan akses bagi para penumpang untuk masuk. Sejumlah penumpang yang sigap segera menerobos masuk ke area kokpit dan bahu-membahu melumpuhkan al-Hammami sebelum situasi semakin tidak terkendali.
“Saat itu, saya berjuang mempertahankan hidup saya. Saya terluka sangat parah hingga jatuh tersungkur… saat itu, saya sempat berpikir, bagaimana jika saya tidak bisa bangkit lagi?” ujar Smit Machchhar.
Setelah situasi di dalam kokpit berhasil dikendalikan dan pelaku dilumpuhkan, pesawat Flydubai tersebut segera mengalihkan rute penerbangan dan melakukan pendaratan darurat di wilayah Arab Saudi. Atas kejadian ini, Jaksa Agung Uni Emirat Arab (UEA) mengategorikan aksi nekat al-Hammami sebagai bentuk upaya tindakan teroris. Pihak berwenang dari berbagai negara terkait langsung bergerak cepat untuk menyelidiki motif di balik penyerangan serta menelusuri latar belakang kehidupan sang kopilot secara menyeluruh.
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari berbagai sumber penyelidikan, Hamam al-Hammami merupakan warga negara Oman yang lahir di Uni Emirat Arab. Ia tumbuh besar di UEA, lahir dari seorang ayah yang berkewarganegaraan Oman dan ibu yang berasal dari Suriah. Sebelum bergabung dengan Flydubai, al-Hammami tercatat memiliki riwayat pekerjaan di beberapa maskapai penerbangan komersial lainnya di kawasan Arab, yang kini menjadi fokus perhatian para penyelidik.
Salah satu catatan karier terpanjang al-Hammami adalah di maskapai nasional Oman Air, tempat ia bekerja selama kurang lebih tujuh tahun. Merujuk pada data profil profesional LinkedIn miliknya, masa bakti al-Hammami di maskapai tersebut tercatat baru berakhir secara resmi pada Februari 2025. Namun, laporan investigasi mengungkap adanya kejanggalan dalam masa kerja tersebut yang berkaitan dengan indikasi perilaku radikal di lingkungan kerja penerbangan sipil.
Dua sumber yang sangat mengetahui jalannya penyelidikan ini mengungkapkan kepada media bahwa al-Hammami sebenarnya sempat dikeluarkan dari program pelatihan penerbangan selama masa kerjanya di Oman Air. Keputusan tersebut diambil oleh pihak manajemen maskapai setelah muncul kekhawatiran yang cukup serius mengenai pandangan ideologi ekstremis dan radikal yang dianutnya. Kendati demikian, al-Hammami tidak langsung dipecat melainkan dialihkan untuk memegang peran atau posisi administratif lain di maskapai tersebut.
Setelah menyelesaikan masa kerjanya di Oman Air, al-Hammami kemudian melanjutkan perjalanan kariernya dengan mendaftarkan diri di maskapai Royal Air Maroc pada Juni 2025. Pihak maskapai penerbangan asal Maroko tersebut mengonfirmasi bahwa al-Hammami memang sempat mengikuti program pelatihan pra-kerja selama tiga bulan pada tahun tersebut. Namun, setelah melalui proses evaluasi yang ketat, ia dinyatakan tidak terpilih untuk diangkat sebagai karyawan tetap atau pilot aktif di maskapai itu, hingga akhirnya ia hengkang pada Januari 2026.
Lepas dari Royal Air Maroc, al-Hammami akhirnya diterima bekerja di Flydubai dan baru menjalani masa tugas sekitar delapan bulan sebelum insiden penyerangan di kokpit itu terjadi. Menariknya, rekam jejak pekerjaan di Flydubai ini sama sekali tidak dicantumkan dalam profil LinkedIn pribadinya yang kini telah dihapus dari platform digital tersebut. Keberadaan profil LinkedIn itu sendiri telah dikonfirmasi oleh sumber internal penyelidikan sebagai akun otentik milik al-Hammami.
Dugaan mengenai radikalisasi yang dialami oleh kopilot asal Oman ini diperkuat oleh pernyataan resmi dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Pemimpin Israel tersebut mengemukakan indikasi awal bahwa al-Hammami diduga kuat telah terpapar dan menjalani proses indoktrinasi radikal Islamis sebelum melakukan aksi berbahayanya. Meskipun demikian, pihak berwenang menegaskan bahwa kesimpulan akhir mengenai motif ideologis ini masih harus menunggu hasil penyelidikan komprehensif yang sedang berjalan.
Kasus penyerangan di kokpit Flydubai ini pun langsung memicu gelombang kekhawatiran baru serta sorotan tajam terhadap sistem keamanan penerbangan global. Banyak pihak mempertanyakan efektivitas prosedur pemeriksaan latar belakang (background check) serta penyaringan kesehatan mental bagi para kru kokpit di industri penerbangan sipil internasional. Fakta bahwa seorang pilot dengan rekam jejak kekhawatiran radikalisme di maskapai sebelumnya masih dapat lolos dan bekerja di maskapai lain menjadi bahan evaluasi serius.
Hingga saat ini, pihak manajemen Flydubai menyatakan belum dapat memberikan pernyataan resmi maupun komentar mendalam mengenai sosok al-Hammami demi menghormati proses penyelidikan hukum yang sedang berlangsung. Di sisi lain, upaya konfirmasi terus dilakukan ke berbagai pihak terkait, termasuk menghubungi pihak manajemen Oman Air serta kantor media resmi pemerintah Dubai untuk mendapatkan klarifikasi tambahan mengenai kasus yang menggemparkan dunia penerbangan internasional ini.


