Updatekno.id — Seorang anak buah kapal (ABK) asal Bogor, Fiki Mutakin (25), mengalami pengalaman traumatis saat kapal tanker MT Honour 25 yang ditumpanginya dibajak oleh kelompok perompak di lepas pantai Somalia. Selama masa penyanderaan yang berlangsung sekitar lima bulan sejak April 2026, Fiki sempat berada di posisi genting di mana ia diikat dan dipersiapkan sebagai korban eksekusi oleh para pembajak. Situasi mencekam tersebut mencapai puncaknya pada 29 September 2026, ketika aparat Puntland melakukan operasi penyelamatan terhadap kapal tanker tersebut.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Duta Besar Republik Indonesia untuk Nairobi, Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji, menjelaskan bahwa Fiki merupakan salah satu sandera yang menjadi target eksekusi kelompok perompak. Posisi Fiki yang dalam keadaan terikat membuat nyawanya terancam di tengah upaya aparat keamanan melakukan pembebasan. Namun, di tengah kepanikan para perompak saat operasi berlangsung, salah seorang dari kelompok tersebut secara tidak sengaja melepaskan ikatan Fiki. Alih-alih melarikan diri, Fiki justru diminta untuk mengoperasikan alat berat crane guna menurunkan sekoci yang hendak digunakan para pembajak untuk melarikan diri dari sergapan aparat.

“Fiki termasuk yang harusnya dieksekusi karena diikat mereka, dia ditembak oleh pembajak yang marah karena dia menurunkan sekoci, tidak kena kepala, terus kemudian ditembakan kedua kena kaki,” ujar Duta Besar Republik Indonesia untuk Nairobi, Tyas Baskoro Her Witjaksono Adji.

Perintah untuk menurunkan sekoci tersebut memicu perdebatan internal di antara kelompok perompak, yang berakhir dengan tindakan kekerasan terhadap Fiki. Setelah tertembak di bagian kaki, Fiki menyadari bahwa nyawanya tetap dalam bahaya besar. Ia kemudian mengambil keputusan taktis untuk berpura-pura mati agar tidak kembali menjadi sasaran amukan perompak yang sedang kalap. Strategi tersebut terbukti efektif karena Fiki berupaya untuk tidak bergerak dan tetap diam di atas kapal dalam kondisi terluka parah.

Keberuntungan berpihak pada Fiki berkat adanya seorang perompak yang menaruh simpati kepadanya. Selama masa penyanderaan, Fiki diketahui telah menjalin komunikasi dengan para penyandera, yang pada akhirnya membuahkan bantuan di saat kritis. Perompak yang bersimpati tersebut membantu menyelimuti tubuh Fiki agar terlihat seperti seseorang yang telah meninggal dunia. Langkah ini berhasil mengelabui perompak lainnya yang masih berniat untuk melukai Fiki, sehingga ia dibiarkan tergeletak hingga situasi di atas kapal berhasil dikuasai sepenuhnya oleh aparat keamanan.

Setelah kapal dinyatakan aman, Fiki segera dievakuasi dari kota pesisir Bandarbeyla, Puntland. Mengingat luka tembak yang dialaminya, ia dipisahkan dari tiga rekan sesama WNI lainnya untuk mendapatkan penanganan medis intensif di rumah sakit di Garowe, ibu kota Puntland. Perawatan medis di rumah sakit tersebut dilakukan dengan serius meski dalam fasilitas yang sederhana, hingga kondisi Fiki mulai membaik dan memungkinkan untuk dipulangkan ke tanah air.

Sementara itu, tiga ABK WNI lainnya yakni Kapten Ashari Samadikun, Wahudinanto, dan Adi Faizal, tetap berada di atas kapal untuk menunggu proses penderekan menuju Pelabuhan Bosaso. Ketiganya baru menyusul Fiki ke Garowe setelah kru pengganti tiba untuk mengambil alih tugas. Setelah melalui serangkaian proses panjang, keempat ABK WNI tersebut akhirnya tiba dengan selamat di Terminal VIP Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, pada Selasa (6/10/2026) malam.

Fiki tiba di bandara dengan menggunakan kursi roda dengan perban putih yang masih membalut kaki kanannya sebagai bukti luka tembak yang ia terima. Pertemuan dengan keluarga menjadi momen yang mengharukan bagi para ABK setelah terpisah selama lebih dari lima bulan akibat insiden pembajakan tersebut. Pemerintah Indonesia melalui instansi terkait telah berkomitmen untuk memberikan rehabilitasi kesehatan dan sosial kepada para korban sebagai bentuk perlindungan negara terhadap warga negaranya yang mengalami musibah di luar negeri.