Updatekno.id — Pemerintah Rusia secara resmi menyatakan kesiagaan militer penuh dan menegaskan bakal mengambil seluruh langkah taktis yang diperlukan guna melindungi kedaulatan negaranya. Reaksi keras dari Kremlin ini mengemuka setelah militer Prancis sukses melaksanakan uji coba penembakan rudal balistik canggih yang memiliki kemampuan membawa hulu ledak nuklir. Pihak Moskow memandang peluncuran senjata strategis tersebut sebagai bentuk pesan provokatif yang sangat nyata dan ditujukan langsung untuk mengintimidasi Federasi Rusia.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Berdasarkan laporan resmi, militer Prancis berhasil menguji coba penembakan rudal balistik generasi terbaru, M51.3, dari sebuah kapal selam yang beroperasi di kawasan Samudra Atlantik. Senjata taktis yang merupakan varian mutakhir dari sistem rudal M51 ini diluncurkan tanpa menggunakan hulu ledak aktif. Rudal tersebut kemudian dilaporkan jatuh dengan aman di wilayah perairan Atlantik Utara, berjarak ratusan kilometer dari garis pantai terdekat guna menghindari risiko kecelakaan sipil.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, yang memantau secara langsung jalannya latihan militer strategis tersebut, memberikan pernyataan tegas mengenai kapabilitas pertahanan negaranya. Menurut Macron, uji coba ini memperlihatkan kekuatan nyata dari kesiapan militer Prancis di kancah internasional.

“Ini adalah demonstrasi baru tentang kredibilitas pencegahan kami, dan pesan yang jelas ke mana pun ia harus diterima,” tegas Presiden Prancis Emmanuel Macron saat memberikan keterangan pers usai menyaksikan peluncuran tersebut.

Menanggapi manuver militer yang dilakukan oleh salah satu kekuatan utama Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) tersebut, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, langsung melayangkan kritik tajam. Peskov menilai bahwa negara-negara Barat saat ini menunjukkan sikap yang semakin konfrontatif dan mengabaikan jalur diplomasi damai. Kremlin mendesak agar segala bentuk perselisihan geopolitik diselesaikan melalui meja perundingan, bukan lewat pamer kekuatan militer yang provokatif.

“Eropa telah menjadi terobsesi dengan rencana untuk memiliterisasi Uni Eropa. Ini buruk karena mereka membangun identitas pertahanan dan keamanan mereka pada konfrontasi dengan Federasi Rusia,” ujar Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov di Moskow.

Peskov juga menambahkan bahwa langkah-langkah militerisasi yang terus digelorakan oleh Uni Eropa merupakan sebuah jalan buntu yang tidak akan menghasilkan dampak positif bagi stabilitas kawasan. Sejarah telah membuktikan bahwa penumpukan senjata dan konfrontasi bersenjata tidak pernah membawa kebaikan bagi perdamaian dunia. Oleh karena itu, di tengah eskalasi tindakan agresif dari blok Barat, Rusia merasa tidak memiliki pilihan lain selain meningkatkan status kesiagaan militernya.

Sebagai informasi, di luar Amerika Serikat, Prancis saat ini menjadi satu-satunya negara anggota NATO di kawasan Eropa yang memiliki dan mengoperasikan persenjataan nuklir secara mandiri. Di bawah kepemimpinan Presiden Macron, arsenal pemusnah massal tersebut kini tengah menjalani program modernisasi dan ekspansi secara besar-besaran. Prancis bahkan telah mengalokasikan anggaran fantastis mencapai 8,3 miliarder dolar AS atau setara dengan Rp 147,74 triliun khusus untuk program pencegahan nuklir pada tahun 2026.

Sebagian besar dari dana pertahanan raksasa tersebut akan dialokasikan untuk membiayai skema kerja sama pertahanan taktis yang dikenal dengan sebutan pencegahan maju. Melalui skema ini, sejumlah negara Eropa seperti Belgia, Denmark, Finlandia, Jerman, Yunani, Belanda, Norwegia, Polandia, Swedia, dan Inggris berpotensi menjadi lokasi penempatan sementara bagi senjata nuklir milik Prancis. Selain itu, negara-negara sekutu tersebut juga direncanakan akan terlibat aktif dalam latihan militer gabungan berskala besar.

Langkah ekspansif ini langsung memicu kekhawatiran mendalam dari Rusia yang saat ini memegang kendali atas kepemilikan senjata nuklir terbesar di dunia. Rusia memperingatkan bahwa penempatan senjata pemusnah massal di dekat garis perbatasannya merupakan ancaman eksistensial yang nyata. Situasi semakin memanas setelah parlemen Lithuania baru-baru ini memutuskan untuk mencabut larangan konstitusional terkait penempatan senjata nuklir asing di wilayah kedaulatan mereka.

Meskipun pemerintah Lithuania belum secara resmi menandatangani kesepakatan pencegahan maju dengan Prancis, Menteri Pertahanan Lithuania, Robertas Kaunas, secara terbuka menyatakan ketertarikannya untuk menampung armada militer berkemampuan nuklir milik Amerika Serikat. Langkah-langkah strategis dari negara-negara tetangga Rusia ini dinilai kian mempersempit ruang diplomasi dan memperlebar jurang konflik yang berpotensi memicu ketegangan bersenjata berskala global di masa depan.