Updatekno.id — Aksi kejar-kejaran sepeda motor yang diduga melibatkan kelompok pemuda antargangster terjadi di Kabupaten Pekalongan, Jawa Tengah, pada Jumat (9/10/2026) dini hari sekitar pukul 03.00 WIB. Peristiwa berdarah tersebut mengakibatkan seorang remaja meninggal dunia, satu orang dalam kondisi kritis, dan dua lainnya mengalami luka-luka.

Scroll Untuk Lanjut Membaca

Insiden maut ini menyita perhatian publik setelah rekaman kejadiannya viral di media sosial, salah satunya melalui unggahan akun Instagram @pekalongantrending. Narasi yang beredar menyebutkan bahwa rombongan pengendara sepeda motor saling berkejaran dari arah wilayah Kota Pekalongan menuju ke selatan ke arah Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan.

Berdasarkan informasi yang beredar dalam video tersebut, aksi saling kejar berlangsung menegangkan hingga akhirnya salah satu pengendara sepeda motor terjatuh di jalan raya. Setelah korban tersungkur, pihak pengendara yang mengejar dilaporkan langsung berhenti di tepi jalan dan diduga melakukan pemukulan terhadap korban.

Lokasi kejadian terkonfirmasi berada di ruas Jalan Raya Ambokembang, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, tepatnya di kawasan sekitar Rumah Sakit Islam (RSI) Pekajangan. Aparat kepolisian setempat langsung mendatangi lokasi dan fasilitas kesehatan guna melakukan penyelidikan setelah menerima laporan dari masyarakat terkait dugaan kecelakaan dengan banyak korban anak di bawah umur.

KBO Reskrim Polres Pekalongan, Ipda Casminto, mengonfirmasi insiden tersebut saat ditemui di RSI Pekajangan. Pihaknya menerima laporan mengenai dugaan kecelakaan di Desa Ambokembang yang melibatkan sedikitnya empat orang anak pada dini hari tersebut.

Casminto memaparkan bahwa dari total empat korban, satu remaja dinyatakan meninggal dunia, satu korban lainnya berada dalam keadaan kritis, dan dua korban berikutnya menderita luka-luka. Guna memastikan penyebab pasti kematian korban yang meninggal, tim forensik kepolisian langsung diterjunkan untuk melakukan pemeriksaan medis mendalam.

“Ini saat ini kita masih melakukan otopsi sehingga nanti bisa terkuak penyebab dari meninggalnya korban tersebut dari tim Dokkes Polda Jawa Tengah,” jelas Casminto.

Selain mengevakuasi para korban dan mengamankan kendaraan sepeda motor milik korban, polisi juga menemukan barang bukti lain di sekitar area peristiwa. Casminto menyatakan penyidik menemukan satu batang gagang kayu berukuran panjang sekitar 30 sentimeter yang diduga kuat merupakan pegangan senjata tajam jenis parang atau celurit.

Terkait kabar viral di media sosial yang menyebut peristiwa bermula dari aksi kejar-kejaran antargangster jalanan, Casminto menegaskan aparat penegak hukum masih terus mendalaminya secara intensif. Pihak Satuan Reserse Kriminal Polres Pekalongan telah mengamankan dan mengarsipkan sejumlah rekaman video yang beredar sebagai petunjuk awal proses penyelidikan.

Korban yang meninggal dunia teridentifikasi bernama Reza Febriansyah, seorang remaja berusia 15 tahun asal Pringrejo, Kota Pekalongan. Jenazah korban sempat dibawa ke ruang penanganan medis sebelum diproses lebih lanjut oleh tim kedokteran kepolisian.

Dokter jaga Instalasi Gawat Darurat (IGD) RSI Pekajangan, dr. Safira Riskiyana, mengungkapkan bahwa korban Reza Febriansyah tiba di rumah sakit dengan sejumlah luka sangat parah, terutama pada bagian kepala. Tim medis menemukan adanya tanda-tanda kerusakan fisik berat yang mengancam nyawa pada struktur tulang tengkorak korban.

Safira menjelaskan kemungkinan besar terjadi fraktur atau patah tulang di bagian kepala korban yang memicu pendarahan masif dari saluran telinga sebelah kanan. Di samping trauma kepala yang fatal, korban juga teridentifikasi menderita patah tulang tertutup maupun terbuka pada bagian paha kanan.

Sementara itu, satu korban lainnya yang saat ini masih menjalani perawatan intensif di IGD RSI Pekajangan dilaporkan terus menunjukkan penurunan tingkat kesadaran. Pasien tersebut berada dalam status pemantauan ketat tim dokter karena masih terus mengeluarkan darah aktif dari bagian hidung yang diduga akibat benturan keras di area tempurung kepala.

Di tempat terpisah, dua korban lainnya dilarikan ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kajen guna mendapatkan pertolongan pertama. Humas RSUD Kajen, Hanung, melalui keterangan tertulis menyampaikan bahwa kedua remaja tersebut menderita cedera kepala kategori ringan, luka robek di beberapa bagian tubuh, serta sejumlah luka lecet akibat gesekan jalanan.

Keluarga korban tewas merasa sangat terpukul dan mencurigai adanya unsur kekerasan berat di balik peristiwa nahas tersebut. Ayah kandung Reza Febriansyah, Eko Riyanto (37), menegaskan dirinya mendapati tanda-tanda mencurigakan saat melihat fisik jenazah anak semata wayangnya di rumah sakit.

“Saya minta usut tuntas. Karena di badan anak saya banyak luka sayatan, terus memar-memar, tidak murni kecelakaan,” kata Eko.

Eko meminta aparat kepolisian bertindak cepat dan profesional dalam membongkar kronologi sebenarnya serta menangkap pihak-pihak yang bertanggung jawab atas meninggalnya sang putra. Ia juga meminta dukungan publik serta media massa untuk turut mengawal jalannya penanganan perkara tersebut hingga tuntas.

Eko menuturkan kabar duka ini bermula saat dirinya dihubungi oleh seorang petugas kepolisian dari Polsek Kedungwuni bernama Alvin yang memberitahukan terjadinya kecelakaan lalu lintas. Saat panggilan telepon pertama tersebut, pihak keluarga belum mengetahui bahwa korban yang dimaksud adalah Reza.

Begitu memperoleh kepastian bahwa anaknya dalam kondisi kritis dan dirawat intensif di RSI Pekajangan, Eko segera bergegas menuju rumah sakit. Setibanya di sana, rasa terkejut melandanya ketika melihat kondisi fisik sang buah hati yang dipenuhi luka-luka lebam dan robekan yang tidak wajar jika hanya dikategorikan sebagai benturan kecelakaan lalu lintas biasa.

Di mata keluarga dan lingkungan sekitarnya, Reza dikenal sebagai sosok remaja yang berkepribadian pendiam dan tidak memiliki rekam jejak bergaul liar. Eko menerangkan bahwa rutinitas harian putranya sebagian besar dihabiskan untuk bersekolah, pulang ke rumah, dan bermain gim konsol bersama teman-temannya tanpa pernah berbuat onar.

Kehilangan anak tunggal menjadi pukulan batin yang teramat mendalam bagi Eko dan keluarganya. Dalam suasana duka, Eko turut mengingatkan para orang tua untuk meningkatkan perhatian dan pengawasan ketat terhadap pergaulan serta mobilitas anak-anak di luar rumah, terutama pada jam-jam rawan dini hari, agar tragedi memilukan serupa tidak kembali menelan korban jiwa.

Aparat kepolisian dari Satreskrim Polres Pekalongan saat ini masih terus memeriksa keterangan saksi-saksi di lapangan, menganalisis rekaman kamera pengawas di sepanjang rute kejar-kejaran, serta menunggu hasil resmi autopsi forensik dari Bidokkes Polda Jawa Tengah guna menentukan konstruksi hukum atas kasus tersebut.